TETAP EKSIS DAN MEMPESONA

Sudah kadung cinta pada dunia modeling, meski sudah tidak lagi melenggang di catwalk model ternama era 80-90 Upi Natasah Thaib atau Upi Thaib masih menekuni dunia yang membesarkan namanya. Kini dia sibuk menjadi guru, trainer, sekaligus owner di lembaga pendidikan khusus modeling Natasa Group

MODEL JUGA BELAJAR POLA PIKIR

Lembaga yang didirikannya pada tahun 2000 tersebut memiliki ribuan siswa dengan berbagai prestasi tingkat nasional maupun internasional. Saat ditemui di Kantor Natasa Jl. Ketampon 1 Kav. 103-105, pada Jumat (23/9), penampilan perempuan 50 tahun itu tetap saja mempesona. Wajahnya cantik dengan make-up minimalis. Senyum mengembang di bibirnya. Badanya tegap tinggi semampai. Rasanya tidak ada yang berubah pada penampilan Upi. Tetap Fashionable, sama dengan ketika dia masih aktif di catwalk 20 tahun lalu.

“Tidak ada trik khusus, hanya butuh kedisiplinan,” jawab Upi saat ditanya mengenai rahasia menjaga bentuk tubuhnya sampai saat ini. Menurut dia, pengalaman merupakan pelajaran berharga. Hal tersebut terus di pegangnya sampai saay ini.

Upi terjun ke dunia modeling sejak usia 17 tahun. Dia ingat betul, tidak terlintas di benaknya untuk menjadi seorang model. Dia menceritakan saat itu sering mengantarkan kakaknya , Sarita Thaib ke sekolah model. “Tiba-tiba ada yang menawari untuk mencoba jadi model,” ungkapnya.

Ternyata Upi menemukan passion-nya di sana. Berbagai prestasipun diraih. Tidak hanya tenar di Indonesia, nama Upi Thaib juga dikenal di panggung catwalk dunia. Dia sering dipercaya desainer-desainer internasional di Eropa untuk membawakan karyanya.

Mengenang masa-masanya menjadi model dulu, dalam sehari dia pernah menjalani 4empat pekerjaan sekaligus. Setiap pagi, dia bangun pukul 04.00 untuk berlatih basket. Upi dulu atlet basket. Dia pernah meraih emas di PON dan bertanding di SEA Games. Lalu, pukul 06.00, dia berangkat ke sekolah.

Sepulang sekolah, sering kali Upi tampil menjadi model, sorenya, dia bekerja sebagai agen asuransi. Malam, dia balik lagi menjalani profesi sebagai model, “sampai-sampai teman protes, banyak banget tas bawaanmu,” cerita Upi lantas tertawa.

Selama menjadi model, Upi belajar banyak hal. Tidak sekedar kecantikan di atas panggung ,model juga dituntut memiliki kepribadian yang bagus. Diantaranya, menjaga perilaku, pola pikir, dan etika. “Jadi model itu, tantangannya banyak. Kita harus siap membawakan produk dengan baik dalam kondisi apapun. Permintaan desainer juga beragam”, jelas perempuan kelahiran 19 September 1966 tersebut.

Gemblengan dari para mentor membuat mental Upi semakin kuat. Sama halnya saat mejadi atlet basket, Upi juga belajar banyak hal. Terutama terkait dengan kedisiplinan dan pola pikir. Kombinasi kesibukan beberapa bidang yang di tekuni membentuk life skill kuat pada dirinya sampai saat ini.

Pada tahun 1996, ketika usianya 30 tahun, dia mengambil keputusan besar. Pensiun dari dunia modeling. Sejak awal dia paham benar bahwa usia karir model tidak panjang. Ada masanya, popularitas seorang model akan turun. Karena itulah Upi menyadari sangat penting untuk memiliki life skill.

Lantas pada tahun 1999, Upi memutuskan untuk hijrah ke Surabaya dan mendirikan sekolah modeling Natasa. “Saat itu saya masih kerja di agen asuransi PT. Pakuwon Jati. Sampai 2000 saya resign dan fokus ke Natasa,” ujar anak ke tiga dari lima bersaudara tersebut. Dia merasa kualitas lebih penting daripada kuantitas. Itulah alasan Upi memilih fokus pada satu bidang, Natasa Group, sampai saat ini.

Kini, sebagai pengajar Upi keras kepada murid-muridnya. Dia ingin menanamkan pola pikir dan kepribadian yang baik. Upi akan menentang keras apabila ada anggapan bahwa model hanya membutuhksn bentuk tubuh semampai serta wajah yang cantik. Lebih dari itu, lanjut dia model harus pintar. “Kalau modal cantik dan bentuk tubuh bagusn ya pastinya tidak akan bertahan lama,” ungkapnya.

Dia mencontohkan saat ada murid yang datang terlambat. Dia akan memberikan hukuman kepada murid tersebut. “Mungkin ada kejadian yang membuat dia terlambat. Tapi, itu bisa diatasi kalau sebelumnya punya perencanaan yang baik,” ujar alumnus Jurusan Manajemen Universitas Perbanas Jakarta tersebut.

Cara yang diterapkan Upi berhasil. Banyak tanggapan positif yang diterima Upi dari wali murid maupun muridnya sendiri. Prestasi-prestasi jebolan sekolah modeling Natasa juga semakin banyak. “Sudah puas?Belum. masih banyak yang belum saya tularkan ke murid-murid saya,” ucapnya. Selain modeling Natasa membuka kelas kepribadian, public speaking, akting dan parenting. Dia juga sering dipercaya memberikan training kepribadian kepada karyawan di berbagai perusahaan.

“Di luar Surabaya juga sering. Kadang di Bali, Jakarta, dan beberapa kota lain,” workaholic,Upi mengenal dirinya sangat baik. “Nutrisi yang dibutuhkan dirinya, fisik maupun mental, tetap dipenuhi, setiap hari selalu menjadwalkan berolahraga. Renang, pilates, yoga, dan gym. “Kalau tidak bisa pagi, ya malam,” kata perempuan yang hobi menulis tersebut.

Bagaimana soal makanan? Bukan program diet, dia memilih mengatur pola makannya. Lagi-lagi, pengalamannya memberikan banyak pelajaran. Dia jadi tahu bagaimana mengatur makanan yang baik dan tepat sesuai dengan usianya saat ini. “Tetap makan tiga kali. Hanya lebih mengatur menunya saja ungkapnya. (Brianika Irawati/c7/jan)(JP 25/9/2016)

 

BERTATA KRAMA ALA UPI THAIB

- Mengoreksi diri setiap saat untuk menjadi lebih baik

- Membentuk karakter diri yang disiplin dalam aktivitas apapun

- Berkemauan leras untuk membentuk pola pikir yang baik

- Selalu berbicara dengan santun

- Menjunjung kejujuran dalam segala hal

- Memiliki perencanaan yang baik

- Berbicara aktif dan kritis

Add comment


Security code
Refresh