ADA UANG, ADA BARANG

Diterbitkan oleh : Kompas 
Pada tanggal : 22 April 2017

Pada zaman modern seperti sekarang, ada pandangan bahwa semua bisa dibeli. Tidak hanya barang, tetapi juga pertemanan, jabatan, pendidikan, pekerjaan, hingga kekuasaan. Sudah begitu mudahnya, sampai-sampai uang pun bisa “menggantikan diri” kita. Seperti apa contohnya?

POSISI orangtua yang seharusnya menjadi orang terdekat dengan anaknya, kini seolah digantikan dengan asisten rumah tangga. Yang lebih menyedihkan, ada yang mengganggap bahwa dengan cukup memberikan uang/ barang kepada si buah hati, itu berarti kebahagiaan sudah diberikan ke anak.

Contoh lain dalam perkerjaan. Tidak suka dengan gaji yang diberikan, langsung mengundurkan diri dan cari lowongan kerja baru. Setelah diterima, permasalahan terjadi, banyak aturan kerja, langsung mengundurkan diri tanpa izin, dan cari lagi pekerjaan baru.

Hal lain, seiring kemajuan teknologi, dengan mudahnya kita menemukan contoh melakukan tindakan kriminal, tindakan asusila, dan pemakaian obat terlarang. Dan, itulah yang sering pula dianggap sebagai cara mudah mendapatkan teman, uang, dan menghilangkan pikiran rumit.

Namun, apakah Anda pernah terpikir apa akibat dari contoh-contoh tersebut?

“Mengganti diri” dengan uang/ asisten rumah tangga akan mengajari anak bahwa memungkinkan untuk mendapatkan sesuatu tanpa kerja keras dan usaha sendiri. Biasanya si anak akan terbentuk karakternya menjadi pemalas, tidak kreatif, suka main perintah, mental lemah, dan kurang tanggung jawab.

Dengan lebih dekat dengan asisten rumah tangga, hal ini akan membuat anak merasa asing dengan orang tua dan tentunya jangan harap anak akan menghargai orangtua karena dianggap bukan figur panutan.

Sementara itu, bagi yang suka gonta-ganti pekerjaan, tidakkah disadari bahwa ini menunjukkan bahwa diri Anda bukan karyawan andal karena selalu menghindari dari permasalahan dan tidak mau menggoreksi diri. Dan, yang jelas, Anda akan memberikan alasan negatif tentang perusahaan lama demi mendapatkan pekerjaan baru.

Sering kita lupa bahwa “ada uang, ada barang”. Ini berarti perusahaan akan memberikan gaji sesuai kualitas diri Anda baik secara kinerja dan kepribadian. Bagaimana bisa kita mendapatkan gaji tinggi bila yang kita berikan dibawah standar?

Bicara mengenai jabatan tinggi yang mudah didapat karena hubungan dekat dan uang, tidaklah Anda berpikir bahwa Anda sudah menunjukkan rendahnya kepercayaan diri Anda dan kurangnya kualitas diri Anda? Pemimpin sejati adalah praktisi dibidangnya. Bukankah akhirnya Anda akan kewalahan bila jabatan itu dipaksa?

Tindakan asusila, tindakan kriminal dan pemakaian obat terlarang, memperlihatkan pola pikir negatif sudah mendominasi kualitas mental dan moral manusia. Alasan yang sering didengar adalah karena kesulitan hidup.

Ya, memang hidup ini tidak mudah. Lalu bagaimana kita mengelolanya? Tinggal bagaimana cara kita memandangnya. Bila kita bisa memandangnya jauh ke depan, yang berarti kita juga memikirkan akibat yang akan diterima nantinya, itu akan lebih bijaksana. Karena akibat yang diterima tidak hanya menimpa diri pribadi, tapi juga orang terdekat.

Kesuksesan adalah bermanfaat untuk orang lain, tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri. Kesuksesan itu tidak instan, karena sesuatu yang instan akan cepat pula hilangnya bukan? Kesuksesan perlu kerja sama dan dukungan positif dari orang lain. Bagaimana bisa orang lain mendukung Anda bila Anda memperlihatkan kepribadian negatif? Anggapan dunia itu kecil memang benar adanya. Bisa jadi orang yang Anda sakiti sekarang, kenal dengan orang yang dibutuhkan nantinya.

Ada uang, ada barang. Bagaimana kalau kita ubah kalimatnya “Ada kualitas, ada kesempatan”.

Kualitas adalah kepribadian. Strong characters and good attitude. Mari kita bentuk pola pikir positif dengan kerendahan hati, kejujuran, doa, dan kerja cerdas. Tidak ada yang tidak bisa bila kita selalu berada dijalur yang benar. Yakinlah.