KEULETAN Vs KESUKSESAN

Diterbitkan oleh : Kompas 
Pada tanggal : 27 Mei 2017

Sering kita menjumpai orang mengeluh saat melakukan sesuatu. Menemui kesulitan saat belajar, langsung menyerah; menjalankan diet, merasa lapar, kemudian putus asa; ingin jadi karyawan profesional, dimarahi pimpinan, langsung berkecil hati, dan tersinggung akhirnya keluar; ingin sukses, tetapi malas memperbaiki diri; dilatih kedisiplinan, terasa berat, lalu pindah ke tempat yang pembelajarannya lebih santai. Yang lebih prihatin adalah berpikir akan kegagalan sebelum melangkah. Mengapa manusia begitu mudah menyerah? Mengapa mentalnya lemah?

COBA ingat saat kecil. Apakah Anda selalu dimanja, selalu dibantu, atau sudah bergelimang fasilitas? Bila terbiasa selalu dibantu, akhirnya kita tidak pernah mengenal permasalahan. Apalagi bila keinginan sering, bahkan selalu dituruti, kita tidak mengenal penolakan. Sebagai anak, kita tidak dilatih bertanggung jawab.

Contoh sederhana, hal hal yang dibiasakan ke anak, seperti dibiarkan untuk tidak membereskan buku, tetapi malah orangtua atau asisten rumah tangga yang melakukan; atau bila anak minta dibelikan mainan, langsung dibelikan, sementara mainan yang baru belum di pakai. Hal tersebut akhirnya membentuk mental lemah, selalu menghindari dari masalah, tidak kreatif, dan selalu merasa benar.

 

Pada orang-orang yang mempunyai sifat ini, kesuksesan akan jauh darinya karena trai dan error tidak membuat orang tersebut semakin bersemangat untuk mencari solusi masalah. Biasanya, orang ini cenderung menyalahkan orang lain atas kesalahannya.

Bayangkan apa yang akan terjadi dengan karakter si anak jika mereka tidak dilatih disiplin. Misalnya, memberi tanggung jawab membereskan kamar atau selalu dimanja dengan memenuhi berbagai macam permintaannya. Mental apa yang terbentuk? Pasti mental yang lemah, cepat menyerah tidak punya kreativitas, menganggap hidup ini sangat mudah, dan pastinya tidak mandiri.

Karakter apa yang terbentuk? Karena orangtua tidak melatih anak untuk bertanggung jawab, tidak disiplin, dan tidak diberi kesempatan untuk berpikir dan menyelesaikan pemersalahannya sendiri, tentunya sifat egois, merasa dirinya benar, tidak kreatif dan malas akan menjadi karakter mereka.

Mungkin bisa disadari bahwa Anda mengalami hal yang sama saat masih kanak-kanak, sehingga sekarang tidak menjadi pekerja yang ulet, tidak bisa sukses dalam berkarier, jabatan tidak naik-naik, tidak bisa menjadi pemimpin yang sejati, tidak bisa mendidik anak menjadi anak yang dibanggakan, atau tidak bisa jadi panutan bagi pasangan.

Kita tidak bisa menutup mata dari kenyataan bahwa dunia sudah penuh dengan penganggur berpendidikan. Banyak orang berbakat, tetapi tidak sukses. Kejeniusan tidak menjamin kesuksesan. Keuletan dan keteguhan adalah yang paling berkuasa. Kerja keras dan pantang menyerah adalah yang selalu memecahkan masalah yang dihadapi manusia.

Kesuksesan adalah kreativitas dan disiplin melakukannya berkali kali. Kesuksesan itu bukan kebetulan. Sukses besar adalah sukses kecil yang muncul bertubi-tubi. Putuskanlah untuk tidak mengkoleksi pikiran negatif. Musuh yang terbesar adalah diri kita sendiri. Sebaliknya, kunci kesuksesan ada di tangan kita sendiri.