MENOLONG DIRI SENDIRI

(Kompas- Klasika- 5 Mei 2018)

Pada zaman yang serba-ada seperti sekarang, bermacam-macam kemudahan bisa dirasakan oleh banyak orang. Bukan semata karena kemajuan teknologi, tapi juga ada orang lain yang bisa memberikan layanan jasa untuk membantu dan mengerjakan bermacam tugas.

Misalnya, asisten rumah tangga yang digaji untuk menjalankan beberapa urusan rumah sehari-hari. Atau ada yang mengandalkan orang tua yang dianggap siap siap membelikan apa saja yang kita inginkan dan menuruti kemauan kita yang jelas-jelas salah. Ada pula pasangan yang siap membuatkan minuman, memasak, mengantar-jemput. Ada sahabat yang selalu mau mendengarkan curhat kita.

Lambat laun, tanpa disadari, kita mulai tergantung kepada orang lain. Mulai merasa susah bila mereka tidak ada didekat kita, dan akhirnya muncul ego menginginkan orang lain tersebut berada didekat kita, dan akhirnya muncul ego yang menginginkan orang lain tersebut harus berada didekat kita. Bikan karena mengasihinya, tapi karena kita sudah merasa nyaman lantaran ada orang yang siap melakukan apa yang kita inginkan.

 

Sementara orang lain tersebut, bisa jadi merasa senang karena merasa bermanfaat. Nah, bila Anda berada di pihak mereka, apakah Anda juga telah merasa memberikan manfaat tersebut?

Kalau saya, tidak. Kalau saya berada di pihak penerima bantuan: saya bisa terlena karena saya lupa bahwa hidup ini tidak mudah; saya semakinmenguburkan kelebihan saya karena tidak mengasahnya; saya membiarkan otak, hati, dan pikiran saya tumpul.

Sementara itu, bila saya berada di pihak pemberi bantuan: saya telah membuat si penerima mempunyai mental lemah, mudah putus asa; sayamembuat si penerima ragu dalam mengambil keputusan, tidak percaya diri; saya membuat si penerima bantuan berjalan menuju jurangkehancurannya karena tidak tahu dan tidak bisa berbuat apa-apa; saya membuat si penerimatidak luwes dalam bergaul, malas dan miskin wawasan.

Apakah Anda sudah bisa memahami, bahwa nantinya aka nada malapetaka yang dating kepada Anda sebagai pemberi dan si penerima?

Niat baik belum tentu jadinya baik. Apakah Anda pernah mengalamiapa yang saya paparkan?

Ayo, mulai menempatkan budaya “sungkan” pada situasi dan tempat yang tepat. Berlatih mandiri, kehidupan adalahtempat kita belajar kepribadian, kehormatan, dan kesuksesan. (UT)