SIAPKAH ANDA BILA TIBA SAATNYA?

(Kompas- Klasika- 26 Mei 2018)

Berapa usia Anda? Sudah berapa lama berada di dunia? Pengalaman apa saja yang Anda dapatkan? Kebahagiaan dan kesusahan apakah yang pernah dialami? Apakah Anda bersyukur atau sebaliknya marah dengan keadaan? Seberapa banyak Anda menyulitkan orang lain? Seberapa banyak orang lain bahagian dengan keberadaan Anda? Apakah Rezeki yang diberikan Tuhan masih belum cukup, atau bahkan berlimpah? Dan, dipakai untuk apakah rezeki tersebut? Apakah tujuan hidup Anda?

Pertanyaan- pertanyaan tersebut selalu terlintas dalam pikiran saya. Seperti berpacu dengan waktu. Sementara itu, tugas dan pekerjaan tidak ada habisnya, bahkan semakin hari semakin banyak yang harus dikerjakan.

Biasanya kita sebagai manusia, punya harapan dan impian, berlomba-lomba mempersiapkan diri menjadi manusia sukses dengan karier dan jabatan tinggi atau mempersiapkan harta untuk masa depan anak. Ada juga yang menjalani pendidikan setinggi mungkin agar mendapat gelar akademik terhormat sehingga akan mudah mendapatkan pekerjaan impian dan mencari harta sebanyak mungkin untuk persiapan pensiun.

Namun, pernahkah berpikir, apakah saat proses perjalanan menuju impian dan harapan itu kita masih diberi umur panjang? Bahkan, pada saat semua harapan dan impian tercapai, apakah kita masih ada di dunia ini? Atau, mungkin kita masih ada, tetapi tidak bisa menikmatinya karena sakit?

Banyak kejadian, yang sadar atautidak disadari sebagai manusia, kita melakukan tindakan tercela dalam meraih kesuksesan. Sikap sehari-hari yang dilakukan tanpa disadari membuat hati orang lain terluka.

Banyak pula kejadian alam yang seperti gempa bumi, kecelakaan dalam transportasi, banjir bandang dan lain sebagainya yang membuat kita tercengang karena semua itu datang tiba-tiba dan sekejab semua harta, orang terkasih, pekerjaan, bahkan diri kita pun hilang.

Jadi saya berpikir, kita harus menjadi cerdas dalam melakukan sesuatu di dunia, selagi kita masih diberi kesempatan hidup. Siapkah kita menghadap Allah dengan diri saat ini? Apakah kita yakin amalan selama di dunia sanggup menyelamatkan kita di alam barzakh? Perbuatan apa yang bisa kita banggakan kepada Tuhan ? apakah ada kebaikan yang membuat kita layak menjadi penghuni surga?

Akhirnya, rasa syukurlah yang harus kita panjatkan karena hingga saat ini Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk bisa bermanfaat bagi orang lain, tempat kita menjadi orang yang bertakwa, tempat kita menjalani ujian untuk bisa lolos mendapatkantiket ke surga.

Semoga kita semua bisa lulus dengan nilai baik, bahkan terbaik dalam menghadapi ujian di dunia, amin.  (UT)