TESTIMONI TALITHA ASMARIA

Mengikuti Program Kelas Private Public Speaking Remaja adalah sebuah langkah yang tepat dalam hidup saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan menempuh kursus dengan jumlah pertemuan 24 jam, saya tidak hanya belajar menjadi public speaker yang handal, namun juga menjadi seseorang yang berkepribadian menarik.

Saya seorang lulusan Universitas Airlangga Surabaya yang sedang mendapatkan beasiswa dari Kementrian Keuangan untuk melanjutkan studi di Inggris untuk Program Master dan Doktoral. Saya berusia 23 tahun. Keinginan saya menjadi dosen membuat saya ingin mempunyai kemampuan yang baik dalam menyampaikan materi dan berpendapat. Tentu hal ini tidaklah mudah, karena saya mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik.

TESTIMONI IBU FENTY - MAMA BRYAN

Perkenalkan, nama saya adalah  Fenty Indria L. Saya adalah orang tua dari Bryan yang berusia 8 tahun kelas Model Anak di Natasa. Awal mula Bryan bergabung di Natasa, karena saya melihat kebiasaan Bryan yang sangat aktif dalam berbicara baik di rumah maupun sekolah. Agar keaktifannya dalam berbicara ini dapat terarah pada hal yang positif, maka saya bermaksud mengikutkan Bryan ke kelas public speaking yang bagus di Surabaya. Dari beberapa referensi yang saya peroleh dari teman, akhirnya pilihan saya jatuh ke Natasa, karena saya tahu pemilik Natasa, yaitu Kak Upi sudah terkenal memiliki pengalaman dan jam terbang yang cukup tinggi di dunia  model  dari beberapa media cetak yang saya baca, sehingga saya percaya di sekolah beliau, Bryan akan mendapat pendidikan yang baik dan dikembangkan sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

TESTIMONI IBU VERA, MAMA STEVEN

TESTIMONI IBU VERA, MAMA STEVENTrauma bullying yang pernah dialami Steven sewaktu masih duduk dibangku Sekolah Dasar sangat membekas dalam diri Steven.  Steven lebih suka berada di lingkungan keluarga dan sangat benci  ke sekolah. Ini membuat Steven di lingkungan sekolah, menjadi anak yang pendiam, selalu menyendiri ,tidak percaya diri, mudah tersinggung, bahkan cenderung negative thinking terhadap lingkungan sekitar.  Bahkan menatap mata lawan bicaranya pun Steven  takut, dan selalu curiga bahwa orang lain akan mengganggu atau akan membulinya.  Di sekolah, steven selalu membentengi diri , enggan bergaul dengan teman sebayanya,  karena rasa takut dan trauma yang dialami selalu menghantuinya.

Page 10 of 23