MENJADI PEKERJA YANG BERKEPRIBADIAN PROFESIONAL

Diterbitkan oleh : Kompas
Pada tanggal : 15 April 2017

Dalam menggeluti dunia kerja profesional, kita dituntut memberikan hasil kerja sesuai dengan keinginan perusahaan. Sebagai calon pekerja, banyak yang masih berpikir bahwa sertifikat sekolah, sertifikat kursus, pengalaman kerja yang berpindah-pindah, menjadi faktor penentu lolos dalam interview kerja.

Sebagai pekerja, tentunya berharap akan mendapatkan gaji besar. Namun pada kenyataan, setelah mendapatkan pekerjaan, bukan prestasi yang diperlihatkan, justru mulai bermunculan masalah dengan rekan kerja, pimpinan, atau koleganya. Yang pada akhirnya memengaruhi kinerja.

Mengapa semua itu bisa terjadi? Ya, karena kita tidak berpikir bahwa kepribadian adalah fondasi dari kesuksessan. Profesional adalah mengetahui, menguasai pekerjaan, tugas, dan tanggung jawabnya. “Tahu” disini bukan sekedar tahu, melainkan lebih pada memahami dan melaksanakan dengan sepenuh hati, benar dan tepat.

Contoh sederhananya begini, seorang resepsionis tidak hanya mengangkat dan berbicara di telepon, tetapi nada dalam bicara harus terkesan ramah, santun, membantu memberikan solusi bila yang dicari penelpon tidak ada, sabar dalam menjawab keluhan. Belum lagi harus berpenampilan menarik, mampu menjadi perantara informasi klien dengan staf terkait. Pastinya harus punya daya ingat tinggi alias tidak pelupa.

Nah, bisakah membayangkan apa jadinya bila resepsionis menjawab telepon dengan ketus? Apa jadinya bila pesan dari penelpon lupa disampaikan kepada staf yang terkait? Apa jadinya bila ada pesan penting untuk pimpinan baru disampaikan keesokkan harinya? Babak baru selanjutnya adalah timbul konflik.

Bayangkan pula bila resepsionis tersebut mempunyai sikap sombong yang tidak ingin disalahkan dan selalu ingin minta dipahami karena punya “penyakit” lupa. Bila seseorang mengatakan bahwa lupa adalah hal yang wajar dalam pekerjaan, tentunya itu cara berpikir yang tidak pas. Yang lebih mengelikan adalah bila ditegur atau diberikan sanksi, menjadi marah dan balik menyerang orang lain dengan umpatan atau membuat fitnah dengan mencari kesalahan orang lain.

Jadi apa yang harus dilakukan? Kunci utama adalah membentuk mindset atau pola pikir. Apa yang ada dalam pikiran, menentukan cara Anda bersikap. Sikap seperti tidak mandiri, kasar dalam berbicara,egois, dan mau menang sendiri tentu akan berpengaruh terhadap cara Anda bekerja. Bagaimana Anda bisa berubah bila tidak menyadari kesalahan/ kelemahan diri? Terbiasa menyalahkan orang lain akan membenturkan Anda pada konflik yang berkepanjangan.

Memang, sulit untuk melihat kekurangan diri sendiri. Sebaiknya kita terlebih dahulu bersikap rendah hati untuk menyadari kelemahan diri. Jadikan kritikan sebagai masukan yang akan membuat kita lebih baik. Jangan menutup telinga hanya karena Anda kebetulan adalah senior dan memiliki gengsi tinggi.

Menciptakan pribadi menarik berkaitan pula dengan penampilan. Pribadi menarik adalah tidak membosankan. Penampilan menarik berkaitan dengan cara berpakaian. Jadi, berpakaianlah yang rapi dengan padu padan menarik, dengan aroma tubuh dan mulut yang harum tentunya.

Kepribadian profesional adalah kejujuran dan kedisiplinan. Orang yang terbiasa menutupi kebohongannya, ia akan tidak takut menutupi kebohongan temannya. Pada saat dihadapkan pada situasi konflik, pimpinan, kolega, dan teman kerja Anda akan berpikir ulang untuk menjadikan orang seperti itu sebagai partner kerja yang andal.

So, segera jadikan diri kita manusia yang berkepribadian cerdas, dengan mengetahui apa yang harus dilakukan dan mengetahui bagaimana cara harus melakukan dan mengetahui bagaimana cara melakukannya dengan benar dan tepat!